KOTA PONTIANAK
23 Oktober 1771
Kota Pontianak adalah
ibu kota Provinsi Kalimantan Barat di
Indonesia. Kota ini juga dikenal dengan nama 坤甸 (
Pinyin: Kūndiàn) oleh etnis
Tionghoa di Pontianak.
Kota ini dikenal sebagai Kota
Khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat
Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang dilalui garis lintang nol derajat bumi. Selain itu, Kota Pontianak juga dilalui
Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia dan
Sungai Landak. Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang membelah kota disimbolkan di dalam logo Kota Pontianak.
Asal Nama Kota Pontianak
Nama Pontianak yang berasal dari
Bahasa Melayu ini dipercaya ada kaitannya dengan kisah
Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh
hantu Kuntilanak ketika beliau menyusuri Sungai Kapuas. Menurut ceritanya, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan
meriam
untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan di mana meriam itu jatuh,
maka di sanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu
jatuh di dekat persimpang Sungai Kapuas dan Sungai Landak, yang kini
dikenal dengan nama Kampung Beting.
Sejarah
Masa Pendirian
Kota Pontianak didirikan oleh
Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu,
23 Oktober 1771
(14 Rajab 1185 H) yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan
Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar untuk
mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1778 (1192
H), Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi
Sultan Pontianak.
Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jami' (kini
bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadariah yang
sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur.
Sejarah Pendirian Menurut VJ. Verth
Sejarah pendirian kota Pontianak yang dituliskan oleh seorang sejarawan
Belanda,
VJ. Verth dalam bukunya
Borneos Wester Afdeling, yang isinya sedikit berbeda dari versi cerita yang beredar di kalangan masyarakat saat ini.
Menurutnya, Belanda mulai masuk ke Pontianak tahun 1194 Hijriah (
1773 Masehi) dari
Batavia. Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman, putra ulama
Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie (atau dalam versi lain disebut sebagai Al Habib Husin), meninggalkan
Kerajaan Mempawah dan mulai merantau. Di wilayah
Banjarmasin, ia menikah dengan adik
sultan Banjar Sunan Nata Alam dan dilantik sebagai
Pangeran.
Ia berhasil dalam perniagaan dan mengumpulkan cukup modal untuk
mempersenjatai kapal pencalang dan perahu lancangnya, kemudian ia mulai
melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
Dengan bantuan
Sultan Pasir,
Syarif Abdurrahman kemudian berhasil membajak kapal Belanda di dekat
Bangka, juga kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Pasir. Abdurrahman
menjadi seorang kaya dan kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah
pulau di Sungai Kapuas. Ia menemukan percabangan Sungai Landak dan
kemudian mengembangkan daerah itu menjadi pusat perdagangan yang makmur.
Wilayah inilah yang kini bernama Pontianak.
Kolonialisme Belanda dan Jepang
Pada tahun
1778, kolonialis
Belanda dari
Batavia memasuki Pontianak dengan dipimpin oleh
Willem Ardinpola. Belanda saat itu menempati daerah di seberang istana kesultanan yang kini dikenal dengan daerah Tanah Seribu atau
Verkendepaal.
Pada tanggal 5 Juli 1779, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan
mengenai penduduk Tanah Seribu agar dapat dijadikan daerah kegiatan
bangsa Belanda yang kemudian menjadi kedudukan pemerintahan
Resident het Hoofd Westeraffieling van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan Borneo Barat) dan
Asistent Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (Asisten Residen Kepala Daerah Kabupaten Pontianak). Area ini selanjutnya menjadi
Controleur het Hoofd Onderafdeeling van Pontianak atau
Hoofd Plaatselijk Bestuur van Pontianak.
Assistent Resident het Hoofd der Afdeeling van Pontianak (semacam Bupati Pontianak) mendirikan
Plaatselijk Fonds. Badan ini mengelola
eigendom atau kekayaan Pemerintah dan mengurus dana pajak.
Plaatselijk Fonds kemudian berganti nama menjadi Shintjo pada masa kependudukan
Jepang di Pontianak.
Masa
Stadsgemeente
Berdasarkan
besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 14 Agustus 1946 No. 24/1/1940 PK yang disahkan menetapkan status Pontianak sebagai
stadsgemeente.
R. Soepardan ditunjuk menjadi
syahkota atau pemimpin kota saat itu. Jabatan Soepardan berakhir pada awal tahun
1948 dan kemudian digantikan oleh
Ads. Hidayat.
[4]
Kemudian, pusat
PPD ini dipindahkan ke
Pontianak yang awalnya berasal dari
Sanggau pada
1 November 1945[5] dan menjadi suatu wadah kebangkitan Dayak pada 3 November 1945, sekitar 74 hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Masa Pemerintahan Kota
Pembentukan
stadsgerneente bersifat sementara, maka
Besluit
Pemerintah Kerajaan Pontianak diubah dan digantikan dengan
Undang-undang Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 16 September 1949
No. 40/1949/KP. Dalam undang-undang ini disebut Peraturan Pemerintah
Pontianak dan membentuk Pemerintah kota Pontianak, sedangkan perwakilan
rakyat disebut Dewan Perwakilan Penduduk Kota Pontianak. Walikota
pertama ditetapkan oleh Pemerintah Kerajaan Pontianak adalah
Rohana Muthalib. Ia adalah seorang wanita pertama yang menjadi walikota Pontianak.
Masa Kota Praja
Sesuai dengan perkembangan tata pemerintahan, maka dengan Undang-undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953, bentuk Pemerintahan
Landschap Gemeente, ditingkatkan menjadi
kota praja Pontianak. Pada masa ini urusan pemerintahan terdiri dari Urusan Pemerintahan Umum dan Urusan Pemerintahan Daerah.
Masa Kotamadya & Kota
Pemerintah Kota Praja Pontianak diubah dengan berdasarkan
Undang-undang No. 1 Tahun 1957, Penetapan Presiden No.6 Tahun 1959 dan
Penetapan Presiden No.5 Tahun 1960, Instruksi Menteri Dalam Negeri No.9
Tahun 1964 dan Undang-undang No. 18 Tahun 1965, maka berdasarkan Surat
Keputusan DPRD-GR Kota Praja Pontianak No. 021/KPTS/DPRD-GR/65 tanggal
31 Desember 1965, nama Kota Praja Pontianak diganti menjadi Kotamadya
Pontianak, kemudian dengan Undang-undang No.5 Tahun 1974, nama Kotamadya
Pontianak berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak.
[4]
Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah di
Daerah mengubah sebutan untuk Pemerintah Tingkat II Pontianak menjadi
sebutan Pemerintah Kota Pontianak, sebutan Kotamadya Potianak diubah
kemudian menjadi Kota Pontianak.
Pemerintahan
Kota Pontianak dipimpin oleh seorang
wali kota.
Saat ini Walikota Pontianak dijabat oleh H. Sutarmidji, S.H., M.Hum.
dengan Paryadi, S.Hut. sebagai wakilnya. Keduanya merupakan wali kota
dan wakil wali kota pertama yang dipilih langsung setelah, dengan
dukungan
PPP dan
PKPI, memenangkan 34,5% suara pada Pilkada 2008 lalu, mengalahkan enam pasangan kandidat lainnya.
[6] Hingga kini Kota Pontianak pernah dipimpin oleh:
[4]
| No. |
Nama |
Status Wilayah |
Tahun Pemerintahan |
| 1 |
R. Soepardan |
Syahkota Pontianak |
1947–1948 |
| 2 |
Ads. Hidayat |
Burgemester Pontianak |
1948–1950 |
| 3 |
Ny. Rohana Muthalib |
Burgemester Pontianak |
1950–1953 |
| 4 |
Soemartoyo |
Kotapraja |
1953–1957 |
| 5 |
A. Muis Amin |
Kotapraja/Kotamadya Pontianak |
1957–1967 |
| 6 |
Siswoyo |
Kotamadya Pontianak |
1967–1973 |
| 7 |
Muhammad Barir, S.H. |
Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak |
1973–1978 |
| 8 |
T.B. Hisny Halir |
Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak |
1978–1983 |
| 9 |
H. A. Majid Hasan |
Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak |
1983–1993 |
| 10 |
R.A. Siregar, S.Sos. |
Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak |
1993–1999 |
| 11 |
dr. H. Buchary Abdurrachman |
Kota Pontianak |
1999–2008 |
| 12 |
H. Sutarmidji, S.H., M.Hum. |
Kota Pontianak |
2008–sekarang |
Perwakilan
DPRD Kota Pontianak terdiri atas 45 anggota. Berdasarkan Pemilihan Umum 2009,
DPRD
Kota Pontianak terdiri dari 45 anggota yang enam di antaranya merupakan
perempuan. Ke-45 anggota itu berasal dari 15 partai politik yang
tergabung ke dalam delapan fraksi. Saat ini, DPRD Kota Pontianak
diketuai oleh Drs. Hartono Azas L., M.B.A. yang berasal dari Partai
Demokrat.
[7][8]
Geografi & Pembagian Administratif
Kota Pontianak terletak pada Lintasan Garis
Khatulistiwa dengan ketinggian berkisar antara 0,1 sampai 1,5 meter diatas permukaan laut. Kota dipisahkan oleh
Sungai Kapuas Besar,
Sungai Kapuas Kecil, dan
Sungai Landak. Dengan demikian Kota Pontianak terbagi atas tiga belahan.
Struktur tanah kota merupakan lapisan tanah
gambut
bekas endapan lumpur Sungai Kapuas. Lapisan tanah liat baru dicapai
pada kedalaman 2,4 meter dari permukaan laut. Kota Pontianak termasuk
beriklim
tropis dengan
suhu tinggi (28-32 °C dan siang hari 30 °C).
Rata–rata
kelembaban nisbi dalam daerah Kota Pontianak maksimum 99,58% dan minimum 53% dengan rata–rata penyinaran matahari minimum 53% dan maksimum 73%.
[9]
Besarnya
curah hujan di Kota Pontianak berkisar antara 3.000–4.000 mm per tahun. Curah hujan terbesar (bulan basah) jatuh pada bulan
Mei dan
Oktober, sedangkan curah hujan terkecil (bulan kering) jatuh pada bulan
Juli. Jumlah hari hujan rata-rata per bulan berkisar 15 hari.
[9]
Secara administratif, kota Pontianak dibagi atas enam kecamatan, yaitu
Pontianak Selatan,
Pontianak Timur,
Pontianak Barat,
Pontianak Utara,
Pontianak Kota, dan
Pontianak Tenggara, yang kemudian dibagi lagi menjadi 29 kelurahan.
Kependudukan
Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, penduduk Kota Pontianak
berjumlah 554.764 jiwa, terdiri dari 277.971 (50,1%) laki-laki dan
276.793 (49,9%) perempuan.
[10]
Suku bangsa penduduk Kota Pontianak terdiri dari
Cina (31,2%),
Melayu (26,1%),
Bugis (13,1%),
Jawa (11,7%),
Madura (6,4%),
Dayak, dan lainnya.
[2]
Sebagian besar penduduk memeluk agama
Islam (75,4%), sisanya memeluk agama
Buddha (12%),
Katolik (6,1%),
Protestan (5%),
Konghucu (1,3%),
Hindu (0,1%), dan lainnya (0,1%).
[1]
Hampir seluruh penduduk Kota Pontianak memahami dan menggunakan
Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Namun bahasa ibu masing-masing juga umum digunakan, antara lain
Bahasa Melayu Pontianak,
Bahasa Tiociu,
Bahasa Khek, dan bahasa daerah lainnya.
Ekonomi
Sebagian besar perekonomian kota Pontianak bertumpu pada
industri,
pertanian, dan
perdagangan.
Perindustrian
Jumlah perusahaan industri besar dan sedang di Kota Pontianak yang
telah terdata selama tahun 2005 adalah 34 perusahaan. Tenaga kerja yang
diserap oleh perusahaan industri tersebut berjumlah 3.300 orang yang
terdiri dari pekerja produksi 2.700 orang dan pekerja lainnya atau
administrasi 600 orang. Perusahaan industri besar atau sedang yang
terletak di Kecamatan Pontianak Utara menyerap tenaga kerja terbesar,
yaitu 2.952 orang.
Nilai keluaran yang dihasilkan dari perusahaan industri besar atau sedang adalah sebesar 1,51 triliun
rupiah,
dimana perusahaan industri besar atau sedang yang berada di Kecamatan
Pontianak Utara yang didominasi oleh perusahaan industri
karet,
sedangkan nilai keluaran yang terkecil berasal dari perusahaan yang
terdapat di Kecamatan Pontianak Kota, senilai 2,85 miliar Rupiah.
Untuk Nilai Tambah Bruto (NTB) yang diperoleh dari seluruh perusahaan
industri besar /sedang di Kota Pontianak selama tahun 2005 adalah
sebesar 217,57 miliar Rupiah dan pajak tak langsung yang diperoleh
adalah sebesar 462,78 juta Rupiah, sedangkan NTB atas Biaya Faktor yang
diperoleh adalah sebesar 217,10 miliar Rupiah.
Jumlah unit usaha industri, tenaga kerja, besarnya nilai
investasi
dan nilai penjualan dari sentra industri kecil jenis Industri Hasil
Pertanian dan Kehutanan (IHPK) terlihat bahwa sentra industri kecil
jenis IHPK terbanyak adalah usaha industri
makanan ringan
yang terpusat di Kelurahan Sungai Bangkong dengan tenaga kerja yang
diserap sebanyak 329 orang, nilai investasinya mencapai 249,50 juta
rupiah dan nilai penjualannya sebesar 780,50 juta rupiah. Sedangkan
industri anyaman
keladi air
pada tahun 2005 ini hanya memiliki 16 unit usaha dengan nilai investasi
17,5 juta Rupiah dan nilai penjualan 110 juta Rupiah yang terletak di
Tanjung Hulu, Pontianak Timur.
Pertanian
Pada tahun
2006, jenis tanaman pangan yang hasilnya paling besar adalah
ubi kayu,
padi,
ubi rambat. Penduduk juga bertani
sayuran dan
lidah buaya. Tanaman buah-buahan yang banyak ada di Kota Pontianak adalah
nangka,
pisang, serta
nanas.
Perternakan di kota Pontianak terdiri dari
sapi (potong dan perah),
kambing,
babi, dan
ayam (ras dan buras).
Perdagangan
Perdagangan merupakan salah satu usaha yang berkembang pesat di Kota Pontianak. Perdagangan modern mulai berkembang pada tahun
2001 dengan berdirinya
Mal Matahari Pontianak di Pontianak Kota. Pusat perbelanjaan modern mulai dibangun di berbagai sudut kota, seperti
Mal Pontianak dan
Ayani Mega Mall Pontianak (Pontianak Selatan). Berbagai perusahaan
retail nasional mulai mendirikan usahanya di Pontianak.
Pendidikan
Perguruan Tinggi Swasta dan Negeri
Sekolah Menengah Atas (SMA)
Sekolah Menengah Pertama (SMP) *Negeri
SMPN 1 s/d 25 Kota Pontianak (Nomor Urut)
Pariwisata
Pariwisata Kota Pontianak didukung oleh keanekaragaman budaya penduduk Pontianak, yaitu
Dayak,
Melayu, dan
Tionghoa. Suku Dayak memiliki pesta syukur atas kelimpahan panen yang disebut
Gawai dan masyarakat Tionghoa memiliki kegiatan pesta tahun baru
Imlek,
Cap Go Meh, dan perayaan sembahyang kubur (
Cheng Beng atau
Kuo Ciet) yang memiliki nilai atraktif turis.
Kota Pontianak juga dilintasi oleh garis khatulistiwa yang ditandai
dengan Tugu Khatulistiwa di Pontianak Utara. Selain itu kota Pontianak
juga memiliki visi menjadikan Pontianak sebagai kota dengan pariwisata
sungai.
Pontianak juga dikenal sebagai tempat wisata kuliner. Keanekaragaman
makanan menjadikan Pontianak sebagai surga kuliner. Makanan yang
terkenal antara lain:
- Air Tahu dan Kembang Tahu, yang dikenal juga dengan susu soya
- Bakcang (ketan yang dikukus dan diisi daging ayam, sawi asin, kacang tanah, dan ebi, terkadang ditambahkan lauk lainnya)
- Bakpao (sejenis roti yang diisi dengan kacang hijau, ayam, sapi, atau babi)
- Bubur Pedas
- Chai Kwe (semacam pastel berisi bengkuang, kuchai, talas, atau kacang; ada yang dikukus dan ada yang digoreng)
- Hekeng (daging goreng yang dibuat dari udang)
- Hu Ju (tahu yang dengan kuah berwarna merah yang asin)
- Ie atau Jan atau onde-onde (sup manis yang dibuat dari tepung kanji dengan bola-bola kecil berwarna merah dan putih)
- Ikan asam pedas (sup ikan dengan bumbu asam-pedas)
- Kaloci atau kue mochi (kue yang dibuat dari tepung kanji dan luarnya diselimuti kacang tanah, wijen, dan gula)
- Keladi
- Kengci Kwetiau (kwetiau goreng dengan lauk sayuran)
- Ki Cang (ketan yang dikukus, digolongkan kue dan cara menikmatinya dengan menaburkan gula)
- Kuan Chiang (sejenis sosis, berwarna merah kehitaman)
- Kue Bulan atau Gwek Pia (kue yang diisi dengan kacang hijau)
- Kwe Cap (sup dengan kulit babi, semacam kwetiau, tahu, kacang, dan kadang-kadang ditambah daging)
- Kwe Kia Theng (sup dengan isi jeroan babi)
- Kwetiau (sejenis mie, ada yang goreng dan kuah)
- Lemang (ketan yang dibakar)
- Lempok Durian
- Minuman Lidah Buaya
- Nasi Ayam (nasi campur dengan kuah khas dengan lauk ayam, babi, sayur asam, dan timun)
- Nasi Capcai (nasi dengan banyak jenis sayur)
- Pacri Nanas
- Pekasam
- Peng Kang (sejenis lemper, diisi ebi)
- Pindang
- Pwe Ki Mue atau bubur pesawat (bubur yang ditambahkan telur, daging babi, dan lemak dengan cita rasa khas)
- Sambal Goreng Tempoyak
- Tau Swan (sup kacang hijau ditambah potongan-potongan kue yang digoreng dan mirip kerupuk ca kue)
- Sio Bi (seperti siomay, namun memiliki cita rasa tersendiri dengan sausnya yang juga berbeda rasanya)
- Sotong Pangkong
- Tun Koi (sup sari pati ayam dengan kunyit dan ginseng)
- Yam Mi (sejenis mie namun sangat kecil dengan lauk khas di atasnya)
Hotel-hotel berbintang yang ada di pusat kota Pontianak adalah:
- Hotel Aston (*4), Jl. Gajah Mada
- Hotel Mercure (*4), Jl. A. Yani
- Hotel Grand Mahkota (*4), Jl. Sidas
- Hotel Kapuas Palace (*3), Jl. Imam Bonjol
- Hotel Santika (*3), Jl. Diponegoro
- Hotel Orchardz Gajah Mada (*3), Jl. Gajah Mada
- Hotel Orchardz A. Yani (*3), Jl. Perdana
- Hotel Kini (*3), Jl. Nusa Indah I
- Hotel Peony (*3), Jl. Gajah Mada
- Hotel Star (*3), Jl. Gajah Mada
- Hotel Gajah Mada (*3), Jl. Gajah Mada
- Hotel Garuda (*3), Jl. Veteran
- Hotel Kapuas Dharma (*2), Jl. Imam Bonjol
- Hotel Merpati (*2), Jl. Imam Bonjol
- Hotel Grand Kartika (*2), Jl. Rahadi Oesman
- Hotel Borneo, Jl. Merdeka
- Hotel Orient, Jl. Tanjungpura
- Hotel Queen, Jl. Hijas
- Hotel 2000, Jl. Gajah Mada
- Hotel 95, Jl. Imam Bonjol
Transportasi
Udara
Kota Pontianak melalui
Bandar Udara Internasional Supadio terhubung dengan beberapa kota di
Indonesia, seperti
Jakarta,
Batam,
Surabaya,
Semarang, dan
Yogyakarta. Selain itu bandara ini juga mempunyai penerbangan internasional langsung ke
Kuching,
Kota Kinabalu,
Singapura dan
Brunei Darusalam. Dari Pontianak juga dapat dilayani
penerbangan perintis ke kota kabupaten di
Kalimantan Barat seperti
Ketapang dan
Putussibau.
Bandar Udara Supadio terletak di luar Kota Pontianak tepatnya di Kecamatan Sungai Raya,
Kabupaten Kubu Raya.
Laut dan Sungai
Pelabuhan Pontianak dapat melayani kapal-kapal barang maupun penumpang. Dahulu melalui dermaga ini sering melayani kapal penumpang menuju
Jakarta,
Ketapang,
Landak,
Sanggau, dan
Putussibau.
Darat
Sistem transportasi darat Kota Pontianak dilayani oleh minibus
angkutan kota yang biasa disebut oplet, taksi, dan beberapa rute
dilayani oleh bus kota. Sebagian besar rute dalam kota dilayani oleh
oplet yang menghubungkan beberapa terminal. Untuk keberangkatan jalan
darat ke luar kota dilayani di
Terminal Batulayang.
Melalui jalan darat pula dilayani bus antar negara, yakni ke
Kuching dan ke
Brunei. Bus ini disediakan oleh berbagai penyedia layanan, termasuk
DAMRI. Transportasi darat ke Malaysia menjadi mungkin melalui
Jalan Lintas Kalimantan. Layanan imigrasi Indonesia-Malaysia dilaksanakan di
Entikong,
Kabupaten Sanggau.
Ini adalah posting gue yang ke-2, posting selanjutnya akan dipikirkan lagi...
Sekian dari gue, Wassalamualaikum Warahmatullahiwabarokatuh :)
Happy Birthday Pontianak City Ke-243 23 Oktober 1771-23 Oktober 2014
Semoga menjadi kota yang bersinar dan bisa menjadi kota yang aman, tentram, dan sejahtera :) AMIN